" Maaf ustadz...saya tidak bisa datang
liqo hari ini, ada undangan teman saya nikah..." yang lain... " Saya
izin bang, ada syuro / reunian SMA saya..." ada juga yang lainnya.." ustadz...saya ada urusan keluarga. Jadi maaf, tidak bisa hadir.." Namun
ada yang berbeda..." Saat ini saya
sedang futur, saya minta izin untuk kali ini tidak datang liqo. Mohon
dimaklumi..." Berbagai alasan yang sering kita dengar...Tak ada yang
salah, memang...Toh semua orang suatu saat pasti pernah berada dalam
situasi tersebut di atas. Dalam jamaah, tarbiyah / halaqoh merupakan
suatu keniscayaan... Halaqoh yang aktif, produktif & dinamis akan
mencetak generasi2 dakwah yang siap terjun dimasyarakat untuk
menyebarkan fikroh kebajikan... Kehadiran dari tiap2 personil halaqoh
memegang peranan penting, mesti tak serta merta personil yg rajin hadir
selalu lebih baik dari yg sering berhalangan hadir.Tapi kehadiran
setidaknya bisa menjadi parameter tingkat keseriusan para peserta
halaqoh. Tak bisa dipungkiri memang, tuntutan hidup, kesibukan dalam
keluarga atau mungkin kadar keimanan yg naik turun akan menjadi alasan
atau bahasa yg lebih halus, uzur dalam menjalani proses tarbiyah ini.
Namun uzur yg seperti apa yg bs ditolerir ? Bagaimana uzur syar'i itu ?
Dalam halaqoh yg personilnya kebanyakan mahasiswa / lajang, mungkin uzur
yang sering adalah karena bentrok dgn syuro kampus atau ada agenda
kegiatan yg lain...Tak ada yg salah, karena semuanya adalah bagian dari
proses tarbiyah... Lain halnya dgn halaqoh yg sebagian besar personilnya
adalah ummahat atau para abi, maka jenis uzurnya juga lebih kompleks...
Dari kesibukan keluarga, acara keluarga, ada keluarga yg sakit, sibuk
kantor, dsb... Semuanya adalah permasalahan yang memang harus disikapi
dengan bijak, harus ada yg diprioritaskan diatas prioritas...(baca
kembali fiqh aulawiyat yah...) tidak ada larangan memang, karena
tarbiyah bukan paksaan... Namun ketika ini semua menjad pemakluman
terus menerus, lantas apa jadinya tarbiyah ini ? Banyak dari saudara2
kita yg mempunyai seabreg kegiatan, namun tetap istiqomah dgn
tarbiyahnya... Atau mungkin yg Ummahat, jika mau pergi ketempat
halaqohnya seperti mau berperang karena harus membawa semua jundi2nya...
Ah,,,masih banyak saudara2 kita yg bisa seperti itu. Lantas... mengapa
kita tidak.. ?? Jika kefuturan dijadikan uzur, seperti pernyataan yang
terakhir tadi. Maka coba kita renungkan kembali perkataan Rasulullah, "
Keimanan manusia itu senantiasa naik dan turun, maka ketika iman sedang
turun (futur) tetaplah berpegang pada sunnahku..." Jadi jelaslah sudah,
ketika futur melanda justru harus segera merapat kepada orang2 sholeh
agar segera bangkit lagi dari kefuturan. " Harus disadari bersama bahwa
tarbiyah memang bukan segalanya, namun segalanya berawal dari
tarbiyah..." Mari kita kembali ke pangkuan tarbiyah..."
Wallahua'lam
bish showab....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar